Jenis-Jenis Transportasi di Pulau Harapan.

Pramuka Penggalang OASE setiap tahun mengadakan perjalanan ke sesuatu tempat yang dikemas dalam nama OASE Eksplorasi. Kegiatan adalah untuk belajar dan diselingi dengan main, tahun lalu kami ada dibagi dua kelompok, tim Jahe dan tim Kunyit. Tim Jahe dan tim Kunyit berbeda tujuannya, Jahe ke Bandung sedangkan Kunyit ke Magelang dan Jogja. Kalau tahun ini kami cuma ada satu kelompok, dan kami pergi ke Pulau Harapan. Kalau tahun lalu, kami outputnya sudah ditentukan oleh kakak pembinanya, tapi kalau sekarang kami menentukan sendiri. Aku memilih output tentang transportasi, karena aku suka mobil, dan karena aku ingin tahu bedanya transportasi di sana dibanding di darat (Pulau Jawa).
Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau Harapan, aku tidak melihat mobil di sana. Aku tahu mengapa tidak ada mobil di sana. Pertama karena mobil sulit untuk bisa diangkut ke pulau karena kapal yang pulang pergi ke sana terlalu kecil buat mengangkut mobil. Kedua,  jalan-jalan yang ada di sana kecil sekali untuk dilewati mobil. Di sana hanya ada lima alat transportasi yang kulihat yaitu sepeda motor, perahu, sepeda, becak, dan gerobak. Di paragraf selanjutnya aku akan menjelaskan satu per satu.
Perahu.
IMG_2173.JPG
IMG_2171.JPG
IMG_2202.JPG

Perahu yang kutemui di sana sebagian besar di pakai oleh nelayan dan sisanya dipakai untuk wisatawan. Mesin yang mereka pakai sebagian besar adalah mesin diesel yang berbahan bakar Solar (Cetane 51) yang di pulau harganya Rp12.000/liter. Ada juga perahu yang memakai motor tempel (outboard motor) yang memakai bensin biasa. Perahu di pulau Harapan ada dua jenis, perahu kayu dan speed boat (perahu cepat). Perahu kayu lebih umum ditemui dibanding speed boat mungkin karena perahu kayu lebih murah daripada speed boat. Harga perahu kayu sekitar Rp7-8 juta dengan mesin bertenaga 20 tenaga kuda. Tentu saja semakin bertenaga mesinnya, semakin mahal harga mesinnya. Mereka biasa membuat perahu di pulau, namun bahan-bahan untuk membuat perahunya harus dibeli di darat (pulau Jawa).
Sepeda motor.
Screenshot (32).png
Hampir semua orang di pulau punya alat transportasi ini. Sebagian besar berjenis matic, dan sisanya berjenis sport dan bebek. Yang terbaru keluaran 2017. Menariknya sebagian besar sepeda motor tidak ada plat nomernya atau plat nomernya sudah kadaluarsa. Bensin yang ada di pulau berjenis Pertamax (oktan 92) dan harganya Rp12.000/liter. Sepeda motor ada yang dibeli di darat (pulau Jawa) atau beli bekas di pulau. Pengendara sepeda motor kebanyakan adalah, adalah remaja putra-putri dan ibu-ibu.
Sepeda, Becak, dan Gerobak
IMG_2212.JPGIMG_2223.JPG

IMG_2221.JPG

Jarang sekali aku melihat sepeda di sana, cuma sekitar 1 sampai 10 sepeda saja dan itu semua dipakai oleh anak-anak di bawah umur 13 tahun. Sebagian besar sepeda dibeli di darat (Pulau Jawa). Becak juga sama seperti sepeda, aku cuma melihat beberapa. Tetapi ketika aku melihat becak, becak itu sedang membawa sayur-sayuran dan daging untuk dimasak, material pembangunan rumah, membawa barang wisatawan yang berkunjung ke pulau,  atau wisatawan/orang yang tinggal di pulau. Sebagian besar becak dibuat sendiri. Kalau gerobak, aku terkejut bahwa gerobak di sana lebih banyak yang didorong dibanding yang ditarik. Biasanya gerobak digunakan untuk berjualan, mengakut sampah, atau mengangkut barang bawaan orang. Semua gerobak dibuat sendiri di pulau.
Menurut pendapatku, Alat-alat transportasi di pulau Harapan masih belum dikelola dengan baik, contohnya banyak sepeda motor tidak ada plat nomernya atau plat nomernya sudah kadaluarsa. Kalau didata dengan baik tingkat polusi di pulau dapat ditekan. Caranya dengan mendata jumlah sepeda motor yang ada di pulau tersebut. Atau sama sekali tidak ada kendaraan bermotor di pulau agar udara tetap bersih. Di pulau juga tidak ada kantor polisi atau polisi yang sedang bertugas. Menurutku polisi diperlukan untuk menjaga ketertiban dan keamanan, di antaranya memastikan surat-surat kendaraan bermotor tidak kadaluarsa.

Demikian perjalananku selama 4 hari 3 malam di Pulau Harapan, bersama 22 teman Pramuka Penggalang Oase. Aku berterima kasih kepada 7 mentor yang telah mendampingi dan membimbing kami dalam perjalanan ini. Menurutku perjalanan ini seru karena dilakukan oleh lebih banyak teman, dan aku senang karena mentor-mentornya seru karena aku kenal tetapi yang belum terlalu kenal masih bisa kuajak bercanda. Aku jadi mengerti bahwa hidup di pulau tidak begitu mudah. Dan aku ingin hidup di pulau itu semudah dengan hidup di darat.

Comments

Popular posts from this blog

Akibat rotasi dan revolusi Bulan terhadap Bumi

Tantangan #07 #eksplorasi #klubOASE Wawancara Pedagang Beras Dan Pemilik Penggilingan Padi

Dari Pramugari, Menjadi Ibu Rumah Tangga, Tiga Anak Homeschooling.