Dari Pramugari, Menjadi Ibu Rumah Tangga, Tiga Anak Homeschooling.

Kalian tahu tidak bahwa sebelum menikah, ibuku pernah bekerja sebagai Pramugari di maskapai penerbangan Hong Kong yang bernama, Cathay Pacific? Dan setelah menikah dan punya anak, selain menjadi ibu rumah tangga, ibuku juga pengajar bahasa Inggris di LIA? Berikut adalah hasil wawancaraku dengan dan ibu sebagai tugas dari kak Irma Nugraha, dalam rangka OaseEksplorasi 2017.  

Menurut ibuku definisi seorang ibu rumah tangga adalah seorang perempuan yang memilih untuk tidak bekerja di luar dan pengurus suami dan anak-anaknya, mulai dari bangun pagi mengurus anak-anaknya dari urusan memasak sarapan, makan siang, makan malam, dan juga tugas-tugas domestik yang lain seperti, membereskan rumah, mencuci baju, juga tugas-tugas di luar yang menyangkut anak, suami, dan dirinya sendiri seperti, urusan ke bank, mengantar anak ke kegiatan di luar rumah seperti, sekolah, kegiatan ekstra kurikuler (kegiatan olahraga), kursus musik, field trip, (juga sering terlibat dalam mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hukum seperti, mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi), paspor, pajak, sampai urusan anak sakit ke dokter.

Ibuku senang menjadi seorang ibu rumah tangga karena bisa terus menerus bersama anak, mengurus keperluan mereka, melihat mereka tumbuh, berkomunikasi dengan mereka, dan bermain bersama mereka. Tentang urusan domestik, itu juga menyenangkan buat ibu, sebab ibu bisa meyediakan makanan yang disukai anak-anak dan suami, mencoba masakan baru, juga ibuku tidak pernah membeli kue Lebaran, sebab selalu membuat sendiri.

Ibuku punya banyak pengalaman sebagai ibu rumah tangga. Memiliki tiga anak itu berbeda-beda semuanya, jadi tidak bisa “One Way Fits All”. Salah satu pengalaman ibu adalah abangku dulu matanya cenderung juling. Saat itu abang berusia 1 atau 2 tahun. Orangtuaku harus membawanya ke pantai untuk memperbaiki penglihatan abangku, demi menghindari operasi. Sekarang abangku tidak juling lagi. Pengalaman lain, abang dulu menderita epilepsi. Ibuku bersikukuh tidak mau minum obat dari dokter sebab dokter meminta ibu untuk memberi obat pada abang dalam jangka waktu 2 atau 3 tahun. Ibu mencari pengobatan alternatif, dan akhirnya berjumpa dengan seorang akupresur yang memijat abangku sehingga abang tidak lagi kena serangan epilepsi sampai saat ini.

Pengalaman lain adalah kakak perempuanku yang Indigo. Orangtuaku mencari terapis dan syukurlah berjumpa dengan yang cocok di Bandung setelah mencari-cari ke mana-mana. Menurut ibuku ada banyak pengalaman lain yang juga berkesan sebagai seorang ibu rumah tangga, tetapi terlalu panjang diceritakan dalam tulisan ini.

Dari segi tenaga dan pikiran, menjadi ibu rumah tangga cukup melelahkan. Tapi kata ibuku dibanding bekerja “Nine to Five” di kantor yang menurut ibu membosankan, menjadi ibu rumah tangga itu lebih dinamis dan lebih menyenangkan. Tentu saja ada saat yang melelahkan ketika anak sedang sakit, atau seperti saat ibu harus mengendarai mobil jarak jauh mengantarku ke Oase. Di saat lalu lintas macet kelelahan semakin tinggi. Tapi secara umum ibu lebih menikmati menjadi ibu rumah tangga.

Saat aku bertanya apakah ibu merasa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu bermanfaat, ibu menjawab bahwa seharusnya setiap ibu rumah tangga merasa bahwa perannya sangat penting. Tapi banyak perempuan yang merasa minder menjadi ibu rumah tangga karena dianggap pekerjaan itu kurang bergengsi. Ibu suka pekerjaan ini karena memaksa ibu untuk selalu belajar dan memperbaharui ilmu yang ada di pengetahuan ibu.

Saran ibu tentang bagaimana seorang ibu rumah tangga melawan rasa minder adalah dengan menyadari bahwa semua pekerjaan itu diperlukan, walaupun jadi ibu rumah tangga itu tidak ada yang memberi gaji. Reward sebagai ibu rumah tangga itu, menurut ibuku sangat luar biasa membahagiakannya. Melihat anak-anak bertumbuh besar, dan siap untuk meraih cita-cita mereka, adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang. 

Menurut ibuku profesi ibu rumah tangga masih sangat diperlukan. Selama masih ada pernikahan dan anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan itu, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu penting. Profesi ini tidak mungkin hilang. Mungkin untuk beberapa perempuan pernah merasa ingin berhenti dan berganti pekerjaan, terutama jika mereka merasa jenuh, atau mereka tidak tahan dengan cibiran negatif tentang pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang dianggap tidak keren. Tapi seperti di awal paragraf ini, pekerjaan ibu rumah tangga itu sungguh penting dan mulia.

Aku bertanya pada ibu, apakah ibu rumah tangga dibayar layak? Ibu menjawab, di beberapa negara maju, profesi sebagai ibu rumah tangga dibayar oleh pemerintah. Atau keluarga dengan ibu rumah tangga di dalamnya akan dikenakan pengurangan pajak yang cukup lumayan, gunanya agar seorang perempuan mau menjadi ibu rumah tangga karena ibulah yang akan menbesarkan dan mendidik generasi penerus di satu negara. Di Indonesia hal seperti itu sayang belum ada. Itu juga yang membuat seorang perempuan minder jadi ibu rumah tangga karena merasa seperti tidak dihargai. Sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap profesi ibu rumah tangga kurang bergengsi sehingga kurang diperhitungkan. Karena itu banyak perempuan yang menyebut profesi ibu rumah tangga dengan tambahan kata “Hanya” atau “Cuma,” padahal profesi ibu rumah tangga itu sangat tidak mudah.

Sebelum mendengar cerita ibu tentang profesi ibu rumah tangga, aku sama sekali tidak tahu apakah itu. Yang aku tahu bahwa seorang ibu rumah tangga itu cuma mengurusi anaknya dan mengantar dia kemana-mana. Tetapi setelah mendengar cerita ibu, ternyata pekerjaaan sebagai ibu rumah tangga itu banyak sekali dan perannya sangat penting, oleh karenanya jangan sampai hilang. Merekalah yang membesarkan dan mendidikan generasi berikutnya, yang akan membangun negeri ini dan mewarisi bumi dan semesta. Saya senang sekali mendapat cerita dari ibu karena menurutku cerita ini sangat menarik dan ada yang bisa dipelajari.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Akibat rotasi dan revolusi Bulan terhadap Bumi

Tantangan #07 #eksplorasi #klubOASE Wawancara Pedagang Beras Dan Pemilik Penggilingan Padi