Eksplorasi Day #3 Wawancara Industri Rumah Dusun Maitan

13 Desember, hari Rabu, 6:00.
Aku bangun, aku dan Yudhis langsung ke rumah Gatotkoco tapi kami lupa bawa alat tulis, jadi kami balik lagi ke homestay PuntoDewo, setelah kami mengambil alat tulis kami langsung ke rumah pak Muhajir, pak Muhajir ini dia mengambil air Nira. Air Nira itu dideres dari bunga yang tumbuh di Pohon kelapa, kalau kalau airnya dideres, kelapanya tidak tumbuh. Ia belajar memanajat pohon kelapa dari umur 15. Kalau Niranya kecut, itu bagusnya dijadikan Gula Merah, yang masak Gula Merah adalah istrinya pak Muhajir, bu Kusnia.

 Setelah selesai dari rumahnya pak Muhajir, kami pulang ke homestay masing-masing mandi, makan, dan setelah itu ke rumah Gatotkoco untuk briefing acara berikutnya. Acara berikutnya adalah riset dusun Maitan, di dusun Maitan ada sekitar 4 Industri Rumah, kelompok aku hanya mengunjungi 3.

Kami pertama ke Industri Rumah Peyek. Di sana ada ibu Dispriyati. Ibu ini membuat Peyek Bayam, Kacang, dan Tempe. Kami mencoba Peyek Kacang dan Tempe dan itu enak sekali, dan kami menanya apa bahannya, bahannya Kalau Peyek bayam pakai bayam, kacang pakai kacang, tempe pakai tempe dan pakai tepung rosebrand. Ibu ini menjual Peyek per 1kilo/RP25rb. Setelah kami membeli Peyek 1/2 kilo setelah itu ke tempat selanjutnya.

Kami jalan terus ketemu dengan Industri Rumah Mebel. Tapi kami ke ternak sapi potong dulu yang punya ternak sapi potong. Ternyata yang punya ternak juga pemilik Industri Rumah Mebel, kami wawancara ternak sapi potong dan katanya ia menjual 10-15 juta.

 Setelah selesai kami ke Industri Rumah Mebel. Di sana membuat pintu, lemari dan alat-alat rumah lain. Mereka hanya mengambil pesanan, kayu Nangka kalau masih muda warnanya kuning tapi kalau udah lama jadi putih, mereka mengambil dari hutan dekat dusun Maitan.

Selesai kami masih punya waktu untuk satu Industri Rumah, kami pergi ke Industri Rumah Tempe. di sana ada ibu-ibu, di sana ia membuat tempe sendiri, ternyata suaminya sudah meninggal dan anak-anaknya sudah pada keluar dari rumah yang satu kuliah dan duanya sudah kerja. Disana ia membuat tempe dengan kedelai kuning tapi sayangnya bukan kedelai lokal. 5 tempe = Rp1000. Kami juga membantu bikin tempe. Setelah kami Membantu bikin Tempe dan membeli 25 tempe kami pamit, setelah itu kami langsung ke tempat pohon singkong untuk mencabut pohon singkong untuk dijadikan Ceriping. Setelah itu kami dengan kelompok yang lain ke rumah pak pudin untuk makan siang dan diskusi tentang perjalanan hari ini.

Kami diskusi dan setelah itu kami mengambil sepeda di pak Dodo untuk pergi ke Candi Borbudur. Setelah mengambil sepeda kami stretching dulu biar tidak keram, setelah itu kami menuju Candi Borobudur. Tapi kami kesana ada masa kesulitan, pertama si Yudhis rantainya polor karena dia baru 2 minggu latihan naik sepeda dan belum pernah mengganti gigi sepeda, Zaky membantu memperbaiki sepeda Yudhis, aku ke depan untuk menjelaskan apa yang terjadi. Setelah Zaky perbaiki sepeda Yudhis kami lanjut perjalanan ke Candi Borobudur, kami sampai di sana, rame sekali Candi Borobudur, karena anak-anak sekolah pada libur dan banyak family trip ke sana. Kami memutuskan untuk tidak masuk Candi Borobudur karena nanti tidak fokus dan kalau terlalu rame tidak menikmatkan.

Kami di perjalanan berhenti di sawah padi dan di sana Kaysan mau cari tahu lebih banyak ke beras jadi ia wawancara ibu yang punya sawah padi itu.

Setelah itu kami ke homestay Gatotkoco diskusi, setelah itu kami ke homestay masing-masing, mandi, dan siap-siap ke rumah pak pudin untuk makan malam dan diskusi.

Setelah makan dan diskusi kami pulang ke homestay masing-masing.

Bersambung

Comments

Popular posts from this blog

Akibat rotasi dan revolusi Bulan terhadap Bumi

Tantangan #07 #eksplorasi #klubOASE Wawancara Pedagang Beras Dan Pemilik Penggilingan Padi

Dari Pramugari, Menjadi Ibu Rumah Tangga, Tiga Anak Homeschooling.