Tantangan #07 #eksplorasi #klubOASE Wawancara Pedagang Beras Dan Pemilik Penggilingan Padi

Setelah brainstorming, saya mewawancarai dua pedagang beras dekat rumah saya,  yang berjarak sekitar 300 meter. Kami biasa beli beras di sana. Biasanya ibu membeli beras merah dan putih, dan saat memasak ibu mencampur kedua jenis beras itu. Saya berjalan kaki ke sana didampingi oleh bapak saya. Setelah kami sampai di sana, bapak saya membeli beras, kami mengobrol sebentar, dan barulah saya wawancara.

Pertanyaan yang pertama adalah: Sudah berapa lama melakukan ini?
Mereka menjawab 10 tahun! Saya terkejut, karena dia memulai berjualan beras dari saya berumur 3 tahun. Saya sekarang sudah 13 tahun.

Pertanyaan yang kedua: Beras apa yang paling laku?
Mereka menjawab: Beras berkualitas sedang.
Saya bertanya beras berkualitas sedang itu seperti apa? Jawabnya, ada yang kualitas sedang dan ada yang super. Apa bedanya dengan super dan sedang? Kebanyakan orang di sekitar lebih sering membeli beras berkualitas sedang karena, harganya terjangkau untuk mereka dan kualitasnya cukup baik. Yang super itu kualitasnya lebih baik menurut anggapan kebanyakan orang dan lebih mahal. Jadi yang paling laku adalah beras berkualitas sedang.

Pertanyaan yang ketiga adalah: Mengapa berjualan beras?
Yang satu menjawab, karena bisanya di bidang beras. Lalu yang kedua menjawab: sebetulnya sebelum ke sini ia bekerja sebagai pramuniaga di salah satu toko Indomaret."

Pertanyaan yang keempat: Beras mana yang jarang terjual?
Mereka menjawab: beras murah. Saya bertanya yang murah itu seperti apa, mereka menjawab: beras stok yang di bawahnya ada beras berwarna kuning. Penyebab beras menjadi kuning karena beras sudah terlalu lama disimpan.

Pertanyaan yang kelima: Sebelum jualan beras, apakah pernah kerja sebelumnya?
Yang satu menjawab, pernah bekerja di pabrik. Yang satu lagi menjawab, seperti jawaban di atas, yaitu menjadi pramuniaga di salah satu Indomaret.

Pertanyaan yang keenam adalah: Apakah beras yang dijual di tokonya hanya berasal dari provinsi Banten saja?
Mereka menjawab, ada yang Ngawi di Jawa Timur, Tegal dan Pekalongan di Jawa Tengah, dan Lampung di Sumatera. Ternyata saya baru tahu bahwa beras kualitas super itu berasal dari pulau Jawa.

Pertanyaan yang ketujuh adalah: Adakah beras impor dijual di sini?
Mereka menjawab, beberapa bulan yang lalu pernah ada, tapi tidak diminati orang karena karakter beras impor dari Thailand kalau dimasak menjadi nasi, nasinya cenderung keras, tidak pulen yang biasanya disukai oleh orang Indonesia. Bahkan nasi dari beras impor itu kalau dimasak menjadi nasi goreng, cenderung keras jadi tidak enak. Saya terkejut saat pendagang beras itu berkata bahwa beras impor lebih murah dari pada beras lokal.

Pertanyaan yang kedelapan adalah: Setiap berapa lama beras datang dan berapa banyak?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut ia bilang ada 8 macam beras yang ia jual. Lalu ia menjawab, kadang beras datang 3 hari sekali, atau 2 hari sekali. Kalau beras Jawa datangnya 10 hari sekali. Biasanya beras yang datang sebanyak 4 ton atau 3 ton."

Dan pertanyaan yang terakhir adalah: Berapa lama beras disimpan?
Mereka menjawab, kalau beras dalam keadaan kering, beras akan tahan sampai 6 bulan tidak ada masalah. Tapi beras bermerek Tanak dari Jawa bisa bertahan satu tahun. Beras yang super bisa tahan satu tahun seperti beras merek Tanak. Lalu saya bertanya lagi, kalau beras yang kualitas sedang bisa bertahan berapa lama? Mereka menjawab, 4 sampai 6 bulan. 

Itulah hasil wawancara saya dengan pendagang beras.


Setelah itu, saya dan orang tua saya pergi ke daerah Kramat Watu yang jaraknya sekitar 5-7 kilometer dari rumah saya. Kramat Watu ini masuk Kabupaten Serang. Setelah kami sampai sana, kami pertama datang ke rumah bapak Sidik. Ternyata bapak Aji ini memiliki tiga buah penggilingan padi yang dijalankan oleh anak-anaknya. Setelah bicara sebentar dengan bapak Aji, ia menyarankan kami untuk pergi ke penggilingan yang dijalankan oleh anaknya yang bernama bapak Fauzi. lalu pergilah kami ke tempat bapak Fauzi yang berjarak sekitar satu kilometer. Kami ke sana naik mobil.

Perasaan saya pada waktu itu kurang bersemangat karena saya lelah sekali Subuhnya saya latihan renang. Tapi setelah melihat mesin penggilingan saya menjadi semangat. Kami berkeliling di dalam penggilingan padinya. ada empat macam mesin yang saya lihat pak Fauzi menjelaskan prossesnya. Pertama padi di pisahkan dari batangnya. Kedua dipisahkan antara yang sudah terkupas dan yang masih ada kulitnya dengan menggunakan saringan besar. Ketiga beras dibersihkan dari kulit arinya sebanyak dua kali prosses di dua mesin yang berbeda.

Di dalam pabrik tersebut saya melihat mesin penggiling padi berjenis diesel berbahan bakar solar bermerek Kubota dari Jepang dan satu lagi bermerek Dong Feng dari Tiongkok. Menurut cerita pak Fauzi mesin Kubota sudah berumur lebih dari 30 tahun dan itu mesin yang pertama kali dimiliki oleh ayahnya 30 tahun yang lalu harga mesin itu Rp.15.000.000. Jadi sangat mahal sekali.

Pak Fauzi pernah mencoba untuk bekerja di bidang lain. Ia pernah bekerja di Saudi Arabia begitu juga ayahnya sebelum ayahnya memutuskan untuk mendirikan penggilingan padi. Menurutnya pekerjaannya berat sebab harus diawasi terus-menerus. Padi di pengglingan pak Fauzi didapat dari sawah milik keluarga dan milik penduduk di sekitar sana. Pak Fauzi belum menikah dan usianya sekitar 30 tahun. 

Ini pertanyaan saya kepada bapak Fauzi.

Pertanyaan pertama: Sudah berepa lama melakukan ini?
Ia menjawab, ayahnya sudah melakukan ini lebih dari 30 tahun. Ia membantu ayahnya sejak kecil dan sekarang ia melakukan sendiri tapi baru selama dua tahun mengerjakan ini sepulangnya dari bekerja di Saudi Arabia.

Pertanyaan kedua: Apakah penggilingan ini berjalan terus?
Ia menjawab, iya. 

Pertanyaan yang ketiga: Mengapa melakukan ini?
Ia menjawab, karena meneruskan usaha ayahnya. Bapak Fauzi melakukan ini sejak kecil dia membantu ayahnya, melihat bagaimana prosses dan  sepulang dari Saudi Arabia ia mengelola salah satu penggilingan padi milik ayahnya.

Pertanyaan yang keempat, sehari kalau menjual beras dapat berapa pak?
Ia menjawab, tergantung pesanan. Kalau banyak ia akan dapat banyak, kalau sedikit ia akan mendapat sedikit. Jadi bapak Fauzi bekerja sesuai pesanan. Kalau sedang ramai dalam sehari pengglingannya dapat menghasilkan 5 ton beras. Berasnya biasanya dikirim ke sekitar penggilingan saja, paling jauh ke kota Pandeglang sekitar 75 kilometer dari tempatnya. 

Pertanyaan yang kelima: Ke empat mesin ini apakah beli atau bikin sendiri?
Ia menjawab, beli. Saya bertanya lagi, belinya dimana? Ia menjawab, di toko besi di Serang ada toko bernama Serang Diesel. Yang paling membuat saya terkejut adalah mesin itu sudah lebih dari 30 tahun seperti yang saya sudah sebut di atas. Mesin Kubota lebih handal dibanding mesin Dong Feng. Tapi harganya sangat jauh berbeda.

Pertanyaan yang keenam, padinya menanam sendiri?
Ia menjawab, iya dan juga ada padi milik orang lain yang menanam.

Pertanyaan yang ketujuh, bapak mengawasi ini 24 jam atau tidak?
Ia menjawab, iya. Tapi ia tetap beristirahat contohnya bekerja dari pagi hingga sore lalu pulang. Kalau malam hari ia mau patroli, ia kembali lagi ke sawah kalau ada maling atau binatang.

Pertanyaan yang kedelapan, berapa lama padi kering?
Ia menjawab, tergantung tingkat panasnya hari. Kalau panas terik maka setengah hari juga sudah kering. Juga tergantung padinya. Kalau terlalu basah bisa menjemur sampai sore hari. Jadi tingkat panasnya hari dan tingkat kekeringan padi harus jadi bahan pertimbangan petani.

Pertanyaan yang terakhir, berapa lama padi panen?
Ia menjawab, 3 bulan. Jadi padi baru dipanen setelah 3 bulan dengan perawatan yang super intensif 24/7. Luar biasa!!

Jurnal refleksi.
Pada hari Sabtu.
Jadi saya wawancara tukang beras dulu dan itu setelah saya berenang pagi, jadi saya lelah. Karena lelah saya pikir wawancara dengan pemilik penggilingan padi dilaksanakan besok harinya saja. Tapi karena bapak saya sudah berjanji dengan temannya yang kenal dengan pemilik penggilingan padi, saya disuruh pergi hari itu juga karena mungkin hari minggu bapak Fauzi tidak ada. jadi hari Minggu saya bisa bersantai di rumah berman Xbox apalagi saya baru saja punya game baru yang bernama Forza Horizon 3. 

Pada hari Minggu.
Saya bermain Xbox One memainkan game Forza Horizon 3 baru saya. Dan sorenya baru saya kerjakan menulis tentang pedagang beras, dan esokan harinya saya berencana untuk menyelesaikan semua tulisan saya tentang beras.

Pada hari Senin.
Di pagi hari saya bangun melakukan kegiatan sehari-hari saya dan mulai mengerjakan kembali blog saya ini. Selesailah saya dengan tugas ini dan tinggal bahasanya diedit-edit bersama ibu saya, tepatnya saya selesai jam 10:52 di pagi hari karena sorenya saya ada klub renang dan malamnya saya mau pergi dengan orangtua saya, yang akan mengajak jalan-jalan salah satu sepupu saya yang berprofesi sebagai dokter yang akan melakukan pelatihan di RSUD Cilegon. 

Di tugas ini saya belajar ada banyak jenis beras dan betapa sulitnya prosses menghasilkan beras dari benih ke padi dan menjadi beras. Saya ingat kata-kata eyang saya, Fattah habisin dong kasian tuh nasinya nangis. dan saya mengerti sekarang mengapa eyang saya bilang begitu, karena prosses beras itu sulit dan lama. Saya pernah membaca bahwa kalau makan di restoran di Jerman dan kita tidak menghabiskan makanan itu maka kita akan didenda karena dianggap telah menyia-yiakan makanan petugas restoran bilang the money is yours but the natural resources belong to the society. Itulah yang saya pelajari mengapa jangan menyia-yiakan makanan termasuk beras. 

Di tugas eksplorasi ini saya bekerja dengan dua teman saya
- Dhifie
- Kaysan
Kerja sama kami awalnya bisa dibilang cukup sulit, karena Dhifie satu hari wifinya mati sehingga Kaysan dan saya bekerja berdua saja. Hari Selasa dan Jumat adalah hari saya tanpa gawai sehingga saya tidak dapat terkoneksi dengan internet. Hal lain lagi, padatnya jadwal kegiatan kami masing-masing. Dhifie dan Kaysan bisa mengerjakan berdua karena Dhifie bisa menginap di rumah Kaysan, sementara rumah saya dan kegiatan saya banyak di Cilegon dan waktu itu saya ingin menghabiskan waktu saya dengan abang saya yang kebetulan datang ke Cilegon. Abang saya jarang sekali pulang ke Cilegon. Itulah kesulitan yang kami hadapi tapi masih bisa kami atasi.















Comments

Popular posts from this blog

Akibat rotasi dan revolusi Bulan terhadap Bumi

Dari Pramugari, Menjadi Ibu Rumah Tangga, Tiga Anak Homeschooling.